Sabtu, 05 Mei 2012

BIOGRAFI SYEKH KHOLIL AL-BANKALANI

    Nama lengkapnya adalah Muhammad Kholil bin Abdul Latif bin Hamim yang jalur keturunannya bersambung pada Sunan Gunung Jati (Salah seorang diantara Wali Songo di Jawa). Lahir pada hari Ahad pahing tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H. Bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1820 M, di desa Keramat Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan Madura.
     Pendidikannya dimulai dari keluarganya sendiri yang diasuh oleh ayahnya Kyai Abdul Latif secara ketat. Bergabai pendidikan dasar agama dan teladan akhlak mulia menjadi tertanam kuat dalam pribadi kholil kecil. Setelah dididik di lingkungan keluarganya sendiri, Kyai Abdul Latif menyadari bakat yang luar biasa dari anaknya, sehingga Kholil segera dikirim ke pesantren di sekitar bangkalan dibawah asuhan Tuan Guru   Dhawuh yang kemudian hari dikenal dengan Bujuk Dhawuh yang bermukim di desa Melajeh Bangkalan, diantara fan yang dikajinya meliputi nahwu, shorof, balaghoh, tauhid, fiqih, ushul fiqih, tafsir, tasawuf dan hadits.
     Setelah cukup belajar di sekitar bangkalan Kholil muda melanjutkan belajarnya di pulau seberang yaitu di pulau Jawa.
    Kholil belajar di berbagai pesantren di Jawa mulai tahun 1852 M. sampai tahun 1858 M. Sebenarnya keilmuannya selama menyantri di Madura dapat dikatakan sudah cukup, belajar di Jawa lebih tepat sebagai penyempurnaan disamping mencari barokah guru. Diantara pesantren yang di timba ilmunya adalah : Ponpes Langitan Widang Tuban, Ponpes Canga'an Bangil Jatim, Ponpes Darussalam Kebun Candi Pasuruan, Ponpes Salafiyah Syafi'iyyah Stail Genteng Banyuwangi dan terakhir di Makah Al-Mukarramah. Diantara gurunya yang berpengaruh adalah Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani (1813 - 1897 M) yang bergelar "Sayyid 'Ulama' Al-Hijaz" dan berguru ilmu batin atau Thoriqoh kepada Syekh Ahmad Khotib Sambas hingga mendapat ijazah dan menjadi mursyid thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. 
     Setalah berguru dengan Syekh Khotib Sambas, Kholil melanjutkan ke guru lain yaitu Syekh Ali Rahbini yang merupakan guru terakhirnya selama nyantri di Makkah, setelah Syekh Ali Rahbini memandang Kholil cukup mampu dalam ilmu keagamaan, tibalah saatnya murid yang disayanginya ini untuk menyebarkan ilmu yang selama ini di tekuninya. Dengan perasaan haru Syekh Ali Rahbini menyuruh Kholil pulang ke Jawa karena dibutuhkan umat. 
    Sepulangnya dari Makkah Almukaaramah kealimannya dalam menguasai berbagai disiplin ilmu terutama ilmu alat (spesialisasi kitab Alfiyyah) mulai diketahui oleh penduduk Madura bahkan sampai Jawa, sehingga banyak santri yang mulai berdatangan untuk menimba ilmu kepada Syekh Kholil, konon santri pertama dari Jawa yang berguru kepada beliau adalah KH. Hasyim Asy'ari dari Jombang Jatim yang kelak sebagai ulama' besar pendiri organisasi terbesar di Indonesia bahkan di Dunia yaitu Nahdlatul 'Ulama (NU).

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar