Rabu, 03 November 2010

TIDAK JAMIN MASUK SYURGA

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”
“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”

“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau. (sfn)

GUS DUR DAN SIKLUS 100 TAHUNAN

HINGGA kini, mungkin publik belum tahu mengapa Gus Dur sering melawan arus sehingga terkesan kontroversial. Bapak demokrasi-pluralisme itu bahkan sering pasang badan ketika memperjuangkan prinsip kebenaran yang diyakini.

Gus Dur, selain mewarisi sikap progresif-inovatif ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim, adalah penganut fanatik Thomas Carly. Menurut Carly, dunia membutuhkan pahlawan yang memiliki ''keberanian dan individualitas'' tersendiri. Prinsip Carly itu dipegang teguh oleh Gus Dur sejak muda, jauh sebelum terpilih sebagai ketua umum PB NU dalam muktamar ke-27 di Situbondo 1984.

Karena itu, mudah dipahami jika Gus Dur sangat teguh pendirian dan tampil sebagai pemimpin berkarakter. Gus Dur tak peduli meski harus berseberangan dengan para tokoh dan kiai sekalipun. Beliau tak peduli, apakah langkahnya memperjuangkan prinsip itu mengancam posisi dan popularitasnya. Sebab, pahlawan memang tak butuh aksesori sosial, seperti pujian atau popularitas.

Ketokohan Gus Dur yang ditopang oleh karisma, kecerdasan intelektual, dan geneologi kekiaian memang luar biasa. Bahkan, sebagian warga NU meyakini tokoh sekaliber Gus Dur hanya lahir sekali dalam 100 tahun. Jadi, kalau ingin ada Gus Dur lagi, kita harus menunggu 100 tahun lagi. Itu dianalogikan dengan kelahiran para mujaddid a'dham (pembaru besar) yang lahir dalam 100 tahun sekali.

Siklus 100 tahun tersebut mengacu kepada hadis riwayat Abu Daud: Innalaha yab'astsu lihadzihil ummah 'ala ra'syi kulli miatin sanatin man yujaddidu laha amra diniha. Dalam redaksi lain, yub'atsu lihadzihil ummah fikulli sanatin man yujaddidu amra diniha.

***

KH Muchit Muzadi dan KH M. Cholil Bisri menyebut Gus Dur sebagai jimat NU. Sebutan itu secara faktual tidak berlebihan karena Gus Dur hadir membawa perubahan saat NU sedang dalam masa suram, tak berwibawa. Apalagi, sejak 1970-an -sebelum menjadi ketua umum PB NU- Gus Dur aktif membangun wacana tanding (counter discourses) tentang NU (Umar Masdar: 2005). Lewat tulisan-tulisannya di media massa, Gus Dur mengangkat tema kegenialan NU dan budaya pesantren.

Langkah Gus Dur itu strategis karena -seperti dikeluhkan Benedict R. O'G Anderson, ahli Indonesia dari AS- sampai 1975 tidak ada tulisan tentang NU. Anderson menyatakan, pada 1975 itu sedikit sekali akademisi -terutama di Barat- yang tahu NU, bahkan belum ada disertasi doktor tentang NU. Anderson saat itu meragukan apakah segera ada disertasi tentang NU. Padahal, NU salah satu kekuatan sosial, kulural, keagamaan, dan politik yang sangat berpengaruh di Indonesia selama bertahun-tahun (Anderson: 1977).

Kemampuan intelektual Gus Dur yang mengangkat tema NU dan pesantren di media massa menjadi awal jawaban dari kelangkaan karya ilmiah tentang NU. Gerakan intelektual itu kian gencar setelah Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Gus Dur bahkan menghidupkan mesin NU lewat gerakan pembaruan pemikiran Islam inklusif  -populer dengan pribumisasi Islam.

Buahnya, terjadi ledakan intelektual dalam NU. Anak-anak muda NU, selain banyak mengikuti jejak Gus Dur menulis di jurnal ilmiah dan media massa, secara akademis sukses. Banyak anak muda NU yang kini menyandang gelar magister, doktor, dan profesor, baik lulusan dalam maupun luar negeri. Begitu juga, buku tentang NU hampir terbit tiap bulan. Bahkan, banyak sekali peneliti dan kandidat doktor dari luar negeri mengambil tema tentang NU sebagai objek kajian disertasi sejak Gus Dur memimpin NU, selain tentang Gus Dur sendiri.

Gus Dur juga melakukan pemberdayaan civil society dengan para aktivis LSM, HAM, dan demokrasi. Gus Dur bahkan melakukan gebrakan ekonomi dengan obsesi mendirikan 2.000 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusumma (NU-Bank Summa). Hingga kini, Nusumma eksis meski jumlahnya tak signifikan.

***

Berpijak dari sana, Gus Dur bukan cuma populer, tapi muncul -meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla- mistifikasi terhadap Gus Dur. Mistifikasi adalah proses keyakinan mistik yang dilekatkan kepada seseorang yang dikagumi. Gus Dur, misalnya, diyakini sebagai waliyullah, weruh sa'durunge winarah, dan siapa yang menentang Gus Dur kualat. Namun, jika kita saksikan penghargaan publik setelah Gus Dur wafat, tampaknya ada benarnya. Konon, salah satu indikator wali, jika dia wafat, arus penghargaan massa terus mengalir secara permanen. Hingga kini, tiap hari ribuan orang menziarahi makam Gus Dur.

Maka, wajar jika lalu lahir massa pendukung Gus Dur yang dalam istilah Eric Hoffer disebut true believer,  pemeluk teguh atau pendukung fanatik (Hoffer; 1993).  Kelahiran true believer itu masif, baik di kalangan gus, kiai, orang awam, maupun anak muda NU. Orang menyebut kelompok tersebut Gus Durian. Yaitu, kader-kader ideologis yang fanatik dan paham serta menyerap gagasan atau pemikiran Gus Dur.

Saya tekankan kepada kader ideologis untuk membedakan dengan ''santri kepentingan'' yang hanya memanfaatkan karisma Gus Dur untuk kepentingan subjektif politik. Santri kepentingan juga berbeda dengan santri pesantren yang memiliki ciri tawadlu, ikhlas, tanpa pamrih, dan sam'an watha'atan, sesuai kultur pesantren. Santri kepentingan adalah mereka yang hadir ke lingkungan Gus Dur untuk kepentingan politik pragmatis, tanpa memperjuangkan gagasan Gus Dur. Ironisnya, santri kepentingan itulah yang banyak mengitari Gus Dur. (*)

*). M. Mas'ud Adnan, Dirut Harian Bangsa, Sekjen Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng  [Diambil dari Jawa Pos, Senin, 08 Februari 2010 ]

MERENUNGLAH....!

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.